Muslimedianews.com

Pidato Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat peringatan HUT ke-44 PDIP menjadi polemik. Pernyataan Presiden RI kelima tersebut dituding sebagian kalangan menistakan agama.

Untuk itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin ingin mengajak Megawati berdialog guna mengklarifikasi tudingan itu.

"Saya rasa bila perlu nanti bu Mega, kami ajak berdialog," kata Din di Kantor Pusat MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/1) kemarin.

Sebelumnya, Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab, menilai pidato putri Bung Karno itu telah menyinggung umat Islam dan Rukun Iman. Karena itu, ia akan melaporkan Megawati ke Kepolisian atas dugaan penistaan agama. Hanya saja, saat ini langkah itu belum dilakukan.

Saat ditanya, apakah Rizieq juga akan diundang dan dipertemukan langsung dengan Megawati dalam dialog yang direncanakan, Din menilai tidak perlu.

"Mungkin kita tidak mau mempertemukan begitu-begitu. Kami ini bukan broker mediator," ucapnya.

Berikut petikan pidato Megawati yang menjadi polemik seperti BeningPost kuitp dari laman Teropong Senayan :

Apa yang terjadi di penghujung tahun 2015, harus dimaknai sebagai cambuk yang mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila sebagai “pendeteksi sekaligus tameng proteksi” terhadap tendensi hidupnya “ideologi tertutup”, yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis.

Ia tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat. Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh seluruh masyarakat.

Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter, dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula. Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan.

Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan bertindak, dengan memaksakan kehendaknya.

Oleh karenanya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan.

Selain itu, demokrasi dan keberagaman dalam ideologi tertutup tidak ditolelir karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan. Tidak hanya itu, mereka benar-benar anti kebhinekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini.

Di sisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.

(rr/HY)